NODA HATI PARA TETUA

NODA HATI PARA TETUA

NODA HATI PARA TETUA

Ada dua nama Umar yang tersebut dalam doa Rasulullah ketika itu. Pada tahun kelima kenabian, dalam kondisi tekanan dan permusuhan dakwah yang begitu berat, Rasul berdoa;

“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Amr bin Hisyam (Abu Jahal)”

Dua orang cerdas, berwibawa, dan berpengaruh, yang ketika itu sama-sama menolak Islam dengan keras.

Kita semua tahu; Umar bin Khattab lah yang akhirnya Allah pilih. Terhujamkan hidayah ke dalam hatinya, dan ia habiskan sisa hidup untuk totalitas memuliakan Islam.

Mengapa Umar bin Khattab yang Allah pilih?
Para ulama mengatakan; karena kesucian dan kebersihan hati.

Penolakan keras Umar bin Khattab pada awal-awal datangnya Islam murni karena ia belum mengetahui secara utuh hakikat ajaran yang dibawa Rasulullah, Umar menolak karena ia melihat ada perpecahan, dan ia tak menyukai perpecahan, hanya karena itu.

Berbeda jauh dengan Abu Jahal bin Hisyam, kecerdasan yang ia miliki tak diikuti dengan kebersihan hati. Ia tahu hakikat kebenaran, tapi ia menolak karena kesombongan dan kedengkian.

Ia tak rela jika harus Muhammad yang menjadi pemimpin, ia mempertahankan gengsi diri hingga mengantarkannya menuju kehinaan.

Hampir semua petinggi dan tetua-tetua Quraisy yang tak menerima Islam saat itu memiliki sikap yang sama, para ulama siroh mengatakan; semua tetua Quraisy mati dalam keadaan kafir kecuali hanya sebagian kecil saja yang selamat, penyebabnya adalah arogansi dan keangkuhan, noda hati yang menutup indahnya kebenaran.

Seperti yang dikatakan Walid bin Mughirah salah satu pemuka Quraisy paling berpengaruh ketika itu;
“Mengapa al-Qur’an diturunkan kepada Muhammad, sedang aku diabaikan, padahal aku merupakan tokoh dan pemuka Quraisy?”

Dalam bahasa lain, ia ingin mengatakan; “aku yang pantas, aku yang layak, Muhammad anak kemarin sore, bagaimana mungkin aku beriman kepadanya”.

Senada dengan yang dikatakan salah satu pemimpin Thaif saat menolak dakwah Rasulullah;
“Oh, kamukah yang dipilih oleh Allah sebagai nabi-Nya? Apakah tidak ada orang lain yang lebih pantas? Jika wahyu yang kamu sampaikan memang harus turun di Makkah, maka orang yang pantas menerimanya adalah Walid bin Mughirah.”

Sikap seperti inilah yang akan menutup hidayah, bimbingan, dan petunjuk dari Allah. Merasa lebih dari yang lain dan merendahkan sesama.

Perjalanan kita mengejar pertolongan Allah adalah perjalanan menjauhkan diri dari sikap-sikap seperti ini, perjalanan untuk senantiasa membersihkan noda hati.

Saat berinteraksi dengan sesama, berbicara, mengomentari orang lain, dan dalam keseharian hidup yang dijalani, periksa kembali hati kita, masih adakah rasa dan sikap-sikap serupa seperti ini.

Dimanapun, kapanpun, dan dari siapapun, bisa saja petunjuk dan wasilah pertolongan Allah datang, rendahkanlah hati untuk mau mendengarkan dan menerima; sekalipun dari anak-anak atau orang-orang yang sering kita remehkan status sosialnya.

Semoga Allah lindungi dan mudahkan tiap langkah kita untuk terus membenahi diri, karena noda hati ini bisa mengotori siapapun, bukan hanya ‘para tetua’.

#SambilBercermin
Sonny Abi Kim
8 Juli 2018
24 Syawal 1439 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.